Satu orang. Itu bukan kekurangan yang saya sembunyikan.
Nama saya Ihsan Nugraha. Sehari-hari saya bekerja sebagai product manager sekaligus engineer, dan Afteroffice Studio adalah praktik mandiri saya di luar itu — namanya memang berasal dari kapan sebagian besar pekerjaan ini terjadi.
Saya tidak punya tim, dan saya tidak berpura-pura punya. Kamu berbicara langsung dengan orang yang memikirkan produknya sekaligus membangunnya. Tidak ada account manager di tengah, tidak ada permintaan yang berubah makna karena melewati tiga orang, dan keputusan bisa diambil dalam satu percakapan.
Yang membuat ini mungkin adalah cara kerja dengan AI. Saya mengarahkan, memutuskan, dan bertanggung jawab; AI mengeksekusi bagian yang dulu memakan waktu berhari-hari. Itu bukan sihir, dan bukan pengganti penilaian produk — model tidak tahu pengguna kamu siapa, tidak tahu mana yang boleh dikorbankan, dan tidak akan menanggung akibatnya kalau salah. Bagian itu tetap pekerjaan manusia.
Saya juga mengurus sisi yang biasanya tidak terlihat: server, deployment, backup, monitoring. Bukan karena saya suka pekerjaan operasional, tapi karena produk yang tidak bisa dijalankan dan dipulihkan bukan produk — itu cuma demo yang beruntung.
Cara saya bekerja
Masalah dulu, fitur belakangan
Percakapan pertama tidak akan tentang teknologi. Saya ingin tahu keputusan apa yang macet dan siapa yang dirugikan oleh keadaan sekarang.
Versi kecil yang benar-benar jalan
Lebih baik satu alur yang tuntas dan bisa dipakai daripada sepuluh fitur setengah jadi yang cuma bagus di demo.
Batasan diucapkan di depan
Kalau ada yang tidak bisa saya kerjakan dengan baik, saya sampaikan sebelum mulai. Itu jauh lebih murah untuk kita berdua.
Kode dan dokumentasi jadi milikmu
Kepemilikan source code disepakati di awal. Saya juga menulis dokumentasi yang cukup supaya tim IT kamu bisa melanjutkan tanpa saya.
Tidak perlu dokumen kebutuhan. Satu proses yang masih manual, atau satu hal yang selalu tertunda di antrean tim IT — itu cukup untuk mulai.